Tetot.....sebuah sms masuk kedalam inbok HP, ketika kubuka dan kubaca isinya " Jangan lupa pada hadir yah, dan bawa kado, insyaAllah ini pertemuan wada " . Deg, seketika hatiku seperti terkena himpitan batu. Termenung seketika mengingat kembali pertemuan-pertemuan dengan teman-temanku yang sepertinya baru kemarin saya mengenal mereka. Ah ,indahnya pertemuan itu. Kami layaknya seperti saudara, tapi kalau mengingat sebuah pepatah : ada pertemuan ada pula perpisahan. Yup, dalam kehidupan ini pun pepatah itu berlaku , ada kehidupan ada pula kematian.
Hari yang telah dijanjikan pun telah tiba, kami semua menunduk sedih, ada apa gerangan sehingga kami dipisahkan. Tiba-tiba terdengar suara lembut, menyadarkan renungan kami, " Adik-adikku sekalian, seperti yang kalian tahu, hari ini adalah pertemuan terakhir, sebelumnya teteh minta maaf, apabila selama ini kurang memperhatikan adik-adik semua, ato mungkin ada kata-kata yang menyakiti hati.Teteh bukannya tidak memperhatikan adik-adik, tapi teteh berharap jangan sampai kita itu hanya mau menerima, tapi kita juga harus memberi, dan perpisahan ini bukanlah akhir dari ukhuwah kita. InsyaAllah di tempat yang baru, kalian semua bisa mendapatkan semangat baru dalam berdakwah ". Sebelumnya teteh pingin membacakan tausyiah buat kita semua.
AKU RINDU ZAMAN ITU…
Aku rindu zaman ketika tarbiyah adalah pengorbanan, bukan tuntutan
dan hujatan.
Aku rindu zaman ketika tsiqoh adalah kekuatan, bukan kecurigaan dan
keraguan.
Aku rindu zaman ketika nasihat menjadi kesenangan, bukan su'uzhon
atau menjatuhkan.
Aku rindu zaman ketika kita semua memberikan segalanya untuk dakwah
ini.
Aku rindu zaman ketika nasyid ghuroba menjadi lagu kebangsaan.
Aku rindu zaman ketika hadir liqo' adalah kerinduan , dan terlambat
adalah kelalaian.
Aku rindu zaman ketika ketika malam gerimis pergi ke puncak mengisi
dauroh dengan ongkos ngepas dan peta tak jelas.
Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah benar-benar jalan kaki 2 jam
di malam buta sepulang tabligh dakwah di desa sebelah.
Aku rindu zaman ketika akan pergi liqo' selalu membawa uang infaq,
alat tulis, buku catatan, dan Qur'an terjemah di tambah sedikit
hafalan.
Aku rindu zaman ketika seorang binaan menangis karena tidak bisa
hadir liqo'.
Aku rindu zaman ketika tengah malam pintu depan diketok untuk
mendapat berita kumpul subuh harinya.
Aku rindu zaman ketika ikhwah berangkat liqo' dengan ongkos jatah
belanja esok hari untuk keluarganya.
Aku rindu zaman ketika seorang murobbi sakit dan harus dirawat,
mutarobbi patungan mengumpulkan dana apa adanya.
Aku rindu zaman itu…
Aku rindu suasana itu…
Aku rindu nuansa itu…
Aku rindu…rinduuu sekali.
Hiks, hiks, terdengar isak tangis dari ku dan teman-temanku sekalian. Ya Allah betapa kami belum seberapanya dibandingkan dengan pendahulu-pendahulu kami. Ya Allah ampuni kelalaian kami selama ini.
Sebagai penutup pertemuan ini, mari kita baca doa Robithoh.
NB: Buat teman-temanku , jangan lupa kirim2 undangannya ;)